The violence in Sambas was not the only major conflict between Dayak and Madura in the post-Suharto era. In 2001, an even more infamous tragedy erupted in , Central Kalimantan, which resulted in hundreds of deaths and the displacement of approximately 100,000 Madurese. This underscores that the root causes of these conflicts were systemic, spanning the entire island.

Scholars attribute the "Perang Dayak dan Madura" to three factors:

Penyelesaian konflik antara suku Dayak dan Madura memerlukan upaya yang serius dan terkesinambungan. Berikut adalah beberapa upaya yang telah dilakukan:

Kongres Penyelesaian Konflik Dayak-Madura tahun 2001 menyepakati dua hal penting: pertama, mereka berpegang pada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan kedua, mereka kembali pada filosofi Huma Betang. Hasil penting lainnya adalah kesepakatan bahwa warga Madura yang telah mengungsi keluar dari Kalimantan Tengah diperbolehkan kembali, asalkan mereka bersedia untuk hidup berdampingan secara damai dan menghormati adat setempat.

Untuk memahami , kita harus melihat karakteristik kedua suku ini. Suku Dayak adalah penduduk asli Kalimantan yang hidup komunal di pedalaman, sangat menghormati alam, dan memiliki hukum adat yang mengikat. Sementara suku Madura berasal dari pulau Jawa Timur yang padat penduduk. Mereka dikenal dengan etos kerja keras, ketegasan, serta temperamen yang blak-blakan.

adalah yang paling brutal. Dipicu oleh penganiayaan siswa SMU Dayak oleh sekelompok orang Madura, massa Dayak yang dipimpin oleh para Kenyah (panglima perang tradisional) melakukan serangan massal. Yang membuat konflik ini unik adalah metode perang yang digunakan:

By February 2001, the conflict escalated into organized warfare. Hundreds of Dayak warriors, many wielding traditional Mandau (machetes), conducted coordinated night raids on Madurese residential areas.

Sekitar 45.000 hingga 70.000 warga Madura mengungsi ke Kalimantan Selatan, Jawa Timur, dan Bali dengan kapal laut. Stadion, terminal, dan pelabuhan dipenuhi pengungsi yang trauma seumur hidup.

Istilah "Saling Tempur" atau "Perang Suku" sering melekat pada peristiwa ini. Namun, untuk memahami akar masalahnya, kita tidak bisa hanya berhenti pada narasi kekerasan. Artikel ini akan mengupas tuntas kronologi, penyebab, cara bertempur yang khas, dampak sosial, hingga upaya rekonsiliasi pasca konflik.

Konflik antara suku Dayak dan suku Madura terjadi pada tahun 1967-1969. Berikut adalah kronologi konflik:

Konflik memuncak pada pertengahan Februari 2001. Situasi menjadi tidak terkendali setelah rumor beredar bahwa salah satu rumah warga Dayak dibakar oleh orang Madura.

Sebelum puncak konflik di 2001, sudah terjadi beberapa insiden kekerasan individu antara warga Dayak dan Madura. Salah satunya adalah penyiksaan dan pembunuhan seorang warga Dayak oleh sekelompok warga Madura setelah sengketa judi pada 17 Desember 2000.